Sugeng Rawuh | Wilujeng Sumping | Selamet Dheteng | Rahajeng Rauh | Salamaik Datang | Horas | Mejuah-Juah | Nakavamo | Slamate Iyoma| Slamate Illai | Pulih Rawuh | Maimo Lubat |
Showing posts with label Cirebon. Show all posts
Showing posts with label Cirebon. Show all posts

Cirebon

Catatan perjalanan 17 Desember 2009
Perjalanan kami sampai di kota Cirebon kawan, sebagai perjalanan penghujung tahun 2009 ini, kami secara khusus merencanakan untuk singgah di kota pesisir utara pulau Jawa, kota yang penuh dengan sejarah kebesaran sebuah kota pelabuhan, kota yang pernah menjadi sentral perdagangan dan penyebaran agama Islam di nusantara. Kota akulturasi budaya Sunda dan Jawa, kota yang memiliki sejarah tak terlupakan akan sebuah cikal bakal sebuah negara, Indonesia. Apa kabar Cirebon? Ijinkan kami menjejakkan kaki di bumi Wali Gunung Jati.

Rute Perjalanan

Berangkat dari kawan kami itulah, kami lebih mantab menyusun rencana, dengan berbekal info LMS (Long Message Service karena kami terus-terusan menteror Kang Agung dengan pertanyaan-pertanyaan kami seputar Cirebon dan dijawab panjang lebar), maka kami menyusun rencana itu seperti telah kami resumekan di atas. Kami berangkat dari Bandung pukul 06.00 WIB, sebetulnya pengen lebih pagian biar ga terlalu siang di Cirebon, tapi dengan berbagai pertimbangan akhirnya kami sepakat berangkat (start dari Dipati Ukur) pukul 06.00. Naik angkot 07 menuju terminal Cicaheum, dan sampai di terminal pukul 06.30, pas lagi ada bus patas AC Bhineka yang stand by di luar dan siap berangkat. Soal bus ini, terus terang kami kurang informasi kawan, sebetulnya ada yang ga AC, tapi konon katanya ngetemnya lebih lama. Karena kami mengejar waktu kamipun tanpa kompromi naik bus itu yang siap membawa kami ke Cirebon.



Baca selengkapnya di sini

Kraton Kanoman


Cirebon memiliki 3 buah Kraton, yaitu Kanoman, Kasepuhan dan Kacirebonan. Ketiganya merupakan Kraton yang dibuat karena intrik kekuasaan pada waktu itu. Dari ketiga Kraton tersebut, Kraton Kasepuhanlah yang konon paling terawat dan yang paling tidak terawat adalah Kraton Kanoman, permasalahan utamanya adalah dana, Kraton Kasepuhan paling terawat karena mendapatkan akses dana dan perawatan dari Pemerintah Kota Cirebon, sedangkan yang lainnya dirawat oleh kerabat kraton saja. Kami memulai perjalanan dari Kraton Kanoman.


Baca selengkapnya di sini

Kraton Kasepuhan


Dulu kraton ini hanyalah sebuah rumah besar yang dibuat oleh Pangeran Sri Mangana Cakrabuana pada tahun 1480. Pangeran Sri Mangana Cakrabuana (Pangeran Cakrabuana) berniat melepaskan diri dari Pajajaran karena Pangeran Cakrabuana tidak akan mewarisi tahta Pajajaran, walaupun Pangeran Cakrabuana adalah putra tertua Prabu Siliwangi, mengapa demikian? Karena Pangeran Cakrabuana menganut Islam sedangkan bapaknya penganut Hindu, dan Kerajaan Pajajaran adalah Hindu. Oleh karena itu, bulat tekat Pangeran Cakrabuana untuk melepaskan diri dari Pengaruh Hindu Pajajaran.



Baca selengkapnya di sini

Masjid Agung Sang Cipta Rasa


Dari Keraton Kasepuhan menuju Pasuketan melewati depan Masjid Agung Sang Cipta Rasa, ada perempatan luruuuuuuuuuuuuuuuuuuus aja, mentok kemudian belok kanan, sudah sampai Pasuketan. Tapi sebelum itu kami akan cerita sedikit tentang Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Sebentar, kami belum bercerita tentang Check point kami. Khusus Cirebon ini, kami ingin makan nasi Lengko (huruf “e” nya dibaca seperti “e” pada kata “merah”). Makanan ini adalah salah satu makanan khas Cirebon. Di depan Masjid Sang Cipta Rasa ini ada penjual nasi Lengko itu, kamipun tanpa pikir panjang untuk membelinya. Tahukah kawan apa substansi dari nasi Lengko itu? Cukup sederhana si, nasi putih biasa (tapi konon dimasak lebih keras lebih enak, artinya tidak terlalu lembek, orang Jawa bilangnya agak Lekas) kemudian diberi irisan tempe dipotong dadu kecil-kecil, plus mentimun yang dipotong dadu kecil-kecil juga, ada potongan toge nya juga (eh ada ga ya, ehmmm seingatnya ada) dan disiram dengan bumbu kacang seperti pecel tapi tidak pedas. Lebih lengkap di kasi kecap. Cukup ceritanya, jadi pengen makan nanti, kembali ke Masjid Sang Cipta Rasa.


Baca selengkapnya di sini

Pasuketan


Dari arah Kasepuhan ke Pasuketan kami tempuh dengan berjalan kaki (akhirnya hujan reda juga) selama kurang lebih 15 menit. Pasuketan konon berasal dari banyaknya kuda dan tumpukan rumput (suket) di daerah situ, sehingga namanya adalah pasuketan. Bener enggaknya kami pun tak tahu. Pasuketan ini merupakan sentra perdagangan, dulu (sekarang juga kayaknya), di simpangnya (perempatannya) kami melihat gedung tua yang kami cari, gedung BAT (British American Tobacco), di sisi yang lain juga ada gedung apa dulunya kami kurang tahu, tapi sekarang menjadi Bank Mandiri, disampingnya ada Wihara Dewi Welas Asih kemudian di sampingnya lagi ada Pelabuhan Cirebon. (ga sangka kami sudah berada hampir di ujung utara pulau Jawa neh, karena pasti Pelabuhan Cirebon adalah sarana ngetemnya kapal dari Laut Jawa sana). 

Baca selengkapnya di sini

Bank Indonesia Cirebon

Berputar-putar di simpang Pasuketan ini, ke Pelabuhan, wihara Dewi Welas Asih, Bank Mandiri hanya untuk mencari tulisan jalan bernama Yos Sudarso. Fiuh, ga ada tuh, kami tidak tahan untuk tidak bertanya. Dan orang yang kami pilih adalah bapak berseragam dari Satuan Polisi Pamong Praja yang kantornya tidak jauh dari Simpang Pasuketan ini. Apakah yang kami tanya? Langsung pada sasasaran, Gedung Bank Indonesia. Gedung Bank Indonesia ini merupakan salah satu icon wajib dalam perjalanan ala MPK. Gedung ini pada umumnya memiliki arsitek yang keren dan tentu sangat terawat (sejauh yang kami tahu kecuali Surabaya). Setelah bertanya, kamipun diberikan arahan yang sangat gamblang. (bapak ini adalah orang ramah ketiga yang kami jumpai, setelah akang di Kanoman, bapak di Kasepuhan dan sekarang bapak di Satpol PP). Rutenya, dari depan BAT, seberang Bank Mandiri lurus aja sampai ada pertigaan pertama belok kiri, kemudian lurus lagi ada pertigaan belok kiri lagi. Tepat di sebrangnya adalah Bank Indonesia. Terima kasih pak.


Baca selengkapnya di sini

Masjid Merah Panjunan


Kamipun berjalan sampai di ujuang BAT, untuk memastikan dan mengetes keramahan Cirebon kami cari korban kelima, dan hasilnya…. membuat kami tersenyum, “Panjunan ke arah mana ya pak?”, dan begini jawabnya. “gini, adek tau Hero? Lurus aja lewat belakangnya, trus luruuus aja, ada tulisannya PANJUNAN kok. Jika ade nyium bau wangi, berati ade berada di jalan yang benar”. Ternyata Cirebon tidak seperti yang dibayangkan, mungkin hanya angkutan dan tukang becaknya saja yang agresif terhadap penumpang, sisanya enggak kok, sangat ramah. Lima dari lima orang yang kami tanya semuanya ramah.

Baca selengkapnya di sini

Alun - alun Kejaksan

Kalo dari Panjunan ke Alun-alun Kejaksan atau Balai Kota, rutenya seperti ini, dari arah tempat kita datang tadi kan ada perempatan (lokasi masjid Panjunan tepat berada di ujung perempatan), dari perempatan itu belok kiri, trus luruuus aja sampai nemu jalan besar trus belok kanan. Dari situ luruuuus aja sampai nemu perempatan jalan RA. Kartini, di kiri jalan itulah Alun-alun Kejaksan. Jaraknya kurang lebih 1 km an. Kami mendapatkan rute ini setelah bertanya bapak-bapak keturunan Arab yang sedang menikmati udara sore. Diakhir pembicaraan, bapak tersebut mengucapkan sesuatu yang membuat kami terharu, “ga mampir dulu de”, dan kami menjawab, “terima kasih pak, kami sedang berburu dengan waktu” dan bapak itupun tersenyum dengan sangat manis…^^



Baca selengkapnya di sini

Balai Kota Cirebon


Rutenya cukup sederhana, dari alun-alun sisi Jl. Siliwangi kita luruuuus aja kurang lebih 500 m, maka di kiri jalan akan ketemu dengan Balai Kota Cirebon, sedangkan di seberangnya terdapat kantor DPRD Cirebon. Sangat susah mencari tahu asal usul bangunan ini, sehingga informasi yang kami dapatkan sangat minim (mungkin kawan-kawan kalau ada masukan dan informasi tentang Balai Kota ini kasi koment yak, biar bisa kami revisi dan perbaiki lagi tulisannya…^^). 

Baca selengkapnya di sini

Stasiun Cirebon

Dari Balai Kota cukup berjalan 100 m ke arah yang sama sudah sampai di Stasiun Kejaksan. Lokasinya sebelah kiri jalan dari arah Balai Kota, agak masuk ke dalam, tapi dari monumen di depannya plus bangunan stasiun yang tinggi sudah nampak dan membawa kesan stasiun banget. Satu lagi yang kayaknya menjadi tujuan rutin kami selain Balai Kota, Gedung BI (kalau ada) adalah Stasiun (karena umumnya stasiun merupakan bangunan kuno peninggalan kolonial). Begitu juga dengan stasiun Cirebon ini.




Baca selengkapnya di sini

Perjalanan Pulang

Ooops, D5 yang mana neh, berdereeeeeet angkot D5 siap mengantar kami kemana saja. “engga pak terima kasih”, kamipun bergegas keluar dari area stasiun..fiuh, capek ngejawab, diem dikata sombong. Di jalan besar kami belok kiri untuk sedikit menjauh dari area stasiun. Akhirnya D5 pun nongol, dan siap membawa kami kembali keterminal, karena kondisinya aga penuh, sang tukang jepret duduk di muka, duduk disamping pak sopir yang sedang bekerja, mengendali angkot supaya baik jalannya, hey tuk tik tak (udah-udah, cukup nyanyinya…).



Baca selengkapnya di sini

Indonesia Barat