Sugeng Rawuh | Wilujeng Sumping | Selamet Dheteng | Rahajeng Rauh | Salamaik Datang | Horas | Mejuah-Juah | Nakavamo | Slamate Iyoma| Slamate Illai | Pulih Rawuh | Maimo Lubat |
Showing posts with label Yogyakarta. Show all posts
Showing posts with label Yogyakarta. Show all posts

Museum Perjuangan Nasional

Berbicara tentang Benteng Vredeburg sama halnya kita berbicara tentang sejarah lahirnya Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat. Mengapa demikian? Begini ceritanya. Ehm..ehm… Perjanjian Giyanti 13 Februari 1755 yang telah melahirkan Kerajaan Ngayogyakarta dan menetapkan Sri Sultan Hamengku Buwono I sebagai Raja Ngayogyakarta, secara cepat memerintahkan untuk membangun sebuah pusat kerajaan berupa Keraton di dusun Pacethokan dengan jalan membabat hutan Beringan.
Baca selengkapnya di sini

Yogyakarta

Catatan Perjalanan 08 – 10 Agustus 2009
Ada sedikit perubahan jadwal yang kami lakukan waktu itu, awalnya jadwal kami adalah Cianjur, kota beras yang terletak sebagai penghubung Bandung dengan Bogor. Namun, karena satu dan lain hal, perjalanana kami ubah ke Yogyakarta. Sedikit melenceng dari rute Anyer – Panarukan sebetulnya, tapi Yogyakarta tidak pernah habis untuk diceritakan, dan kami ingin membagi salah satu cerita itu pada kawan-kawan semua. Kami melakukan perjalanan panjang dan cukup menantang di Yogyakarta ini, berangkat dari Bandung tanggal 08 Agustus, nyampe di Yogya tanggal 09 Agustus dan tanggal 10 Agustus sudah berada di Bandung lagi. Saran kami kawan-kawan semua, kalau ke Yogya menginaplah, biar puas dan semua terjalani secara utuh, berhubung kami ada yang berhalangan waktunya kalau pake acara menginap, maka kamipun merencanakan perjalanan itu selengkap mungkin dalam waktu hanya 15 jam di Yogya. Bisakah? Ikuti catatan perjalanan kami…
Baca selengkapnya di sini

Rute Perjalanan

Dalam menentukan rute perjalanan ini, kami berdiskusi, berdebat dan bernegosiasi (hehe…^^) untuk mengambil keputusan yang tepat, bagaimana dalam waktu 15 jam saja, kami bisa keliling Yogyakarta tanpa meninggalkan esensi Yogyakarta itu sendiri, mungkinkah? Nah beginilah sedikit ceritanya. Kami memiliki 3 alternatif waktu itu, Borobudur dan Yogya kota, Prambanan dan Yogya Kota atau Borobudur dan Prambanan tanpa Yogya kota. (Yogya kota adalah definisi kami sendiri untuk menyebut objek-objek wisata di tengah-tengah Yogyakarta). Dengan itung-itungan ala kadarnya plus feeling akhirnya kami memutuskan Prambanan dan Yogyakarta kota, Borobudur kami agendakan khusus dalam perjalanan tersendiri, sekaligus ke Suryalaya (tunggu tanggal mainnya…^^). 


Baca selengkapnya di sini

Benteng Vredeburg dan Gedung Agung

Seandainya kawan-kawan turun di Stasiun Tugu, akan sangat mudah ke benteng Vredeburg, cukup keluar stasion dan jalan luruuuuuuuuuuus aja mengikuti jalan Malioboro atau mau naik andong, becak ataupun Trans Yogya. Jaraknya lumayan kalau dari Tugu, kurang lebih 1 km lah, kalau dari Lempuyangan kurang lebih 2 km dan muter-muter jalannya. Kami dari Lempuyangan berjalan bersama-sama ke arah stasiun tugu, sebetulnya ada bus kota ke arah tugu, tapi kami lebih memilih jalan kaki (tepatnya ga tau kalau ternyata bus kota itu ke arah malioboro, hohoho
^^). 
Baca selengkapnya di sini


Kraton Yogyakarta

Dari perempatan tadi kalau kita luruuuuus aja, akan ketemu dengan alun-alun utara, belok kanan dan belok kanan lagi untuk ke Kraton Ngayogyakartanya, jangan kuatir, banyak petunjuk-petunjuknya kok disana. Kami nyampe di Kraton kurang lebih pukul 08.00. Kalau dari Vredeburg ke Kraton dengan menggunakan becak palingan Rp. 10.000 mending jalan da’, sekalian melihat lihat kota Yogyakarta, kurang lebih 1 km an lah dari Vredeburg. Di pintu masuk Kraton sudah berjejer rapi penjual segala macam minuman dan souvenir, kalau mau beli silahkan, tapi ingat harus lihai dalam hal tawar menawar, soalnya harga yang ditawarkan biasanya 2 x lipat bahkan lebih dari harga sebenarnya.. rumus ini juga berlaku di Malioboro..(pastilah kawan-kawan sudah paham semua tentang rumus dasar ini…^^)

Baca selengkapnya di sini

Taman Sari

Dari kraton sekitar 400 m ke arah pasar burung, atau sekitar 10 menit dari Kraton. Kawan-kawan bisa naik becak, Rp. 10.000 an langsung ke sasaran, tapi seperti biasa, kami memilih berjalan kaki, dan tersesat, hehehe…^^mengapa tersesat, Taman Sari berada di dalam perkampungan warga dan setelah masuk ke dalam kompleksnya pun kami masih tersesat, hehe…^^

Baca selengkapnya di sini

Kampus UGM

Kami bertanya sama mbak-mbaknya yang di Shelter, “mbak kalau mau ke UGM ambil yang jalur berapa?”, mbaknya balik nanya, “ke kampusnya atau ke Koperasi?”, tweng, kmana ya, mana ajalah yang penting ada tulisannya UGM, kalau kami cek di sumber yang kami percaya harusnya naik jalur 2A turun di bundaran UGM, baiklah, kami ambil jalur 2A sajalah. Perjalanan lumayan jauh, muter-muter sampai akhirnya kami turun di bunderan UGM kurang lebih pukul 12.30. Panaaaaaaas banget, badan udah mulai bau matahari (bau matahari apa bau matahari neh??...hehe), lumayan juga ternyata jarak dari bunderan UGM ke dalemnya. Kurang lebih 500 m an lah, tapi garis lurus jadi keren juga kalo dipoto dari depan dengan latar belakang gedung apa itu namanya lupa lagi (banyak yang lupa euy, penurunan daya ingat rupanya sekarang…^^).



Baca selengkapnya di sini

Prambanan

Dari shelter bunderan UGM, kami ambil jalur 1B, berangkat pukul 14.30 nyampe di terminal Prambanan pukul 16.00 (feeling n perkiraan kami rupanya tepat saudara-saudara), dan catat, kami belum check point kedua. Beruntungnya waktu itu tidak ujan sehingga misi 15 jam di Yogya tidak terhambat. Baiklah, dari Terminal ke Prambanan sekitar 400 M an, tapi karena untuk kali kesekian kami mengejar waktu akhirnya kami mempergunakan transportasi tradisional, andong. Ongkosnya biasanya Rp. 5.000 per orang, tapi biasanya juga Rp. 20.000 per andong, tergantung keimanan masing-masing lah ya, hahaha…pokok nya perkiraannya segitulah, tapi kalau kawan-kawan tidak keburu waktu, jalan kaki ga terlalu jauh ko.


Baca selengkapnya di sini

Tugu Yogya

Inilah kawan salah satu icon Yogya yang lain. Tugu Yogyakarta, sebagai jujugan para fotografer juga, apalagi kalau pas weekend atau malam hari, puluhan lensa kamera tertuju pada model yang anggun ini, Tugu Yogya atau orang Yogya menyebutnya sebagai Tugu Pal Putih (De Witt Paal). Tugu ini telah mengalami perubahan bentuk dari kali pertama di buat antara tahun 1756 - 1757. Tugu ini diprakarsai oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I yang mempunyai nilai simbolis dan merupakan garis yang bersifat magis menghubungkan Laut Selatan (Samudera Hindia), Kraton Yogyakarta dan Gunung Merapi. Ketiga lokasi tersebut berada dalam satu garis lurus, tugu ini dipakai sebagai patokan Sultan menghadap ke arah Gunung Merapi.

Baca selengkapnya di sini

Malioboro

Siapa si yang ga kenal dengan Malioboro, bahkan beberapa lagupun menceritakan tentang Malioboro. Ga lengkap rasanya kalau ke Yogya tapi ga ke Malioboro. Apa yang dicari? Sebetulnya kota-kota lain juga punya yang seperti Malioboro, tapi tidak ada yang bisa menggantikan Malioboro. Sebut saja, di Bandung, sepanjang jalan menuju Pasar Baru kondisinya ga jauh beda dengan Malioboro, tapi Malioboro tetaplah Malioboro. Tak tergantikan. 


Baca selengkapnya di sini

Perjalanan Pulang

Sebetulnya perjalanan kami memerlukan biaya yang tidak terlampau banyak alias irit banget, kalau saja kami mau ambil resiko untuk berdiri dari Yogyakarta ke Bandung naik Kereta Ekonomi Parahyangan. Begini ceritanya. Setelah kami tiba pagi tadi di Lempuyangan, kami langsung menuju loket tiket untuk pemesanan kereta ekonomi ke Bandung, tapi layanan tiket ekonomi baru dibuka beberapa jam sebelum keberangkatan. Itu artinya kami harus spekulasi, karena kereta tersebut berangkat dari Surabaya pagi dan melewati stasiun-stasiun kecil, maka kemungkinan besar sudah penuh ketika sampe di Yogyakarta. Kami memutuskan untuk tidak mengambil resiko itu, mengingat kondisi kami yang pastinya sudah capek setengah hidup setelah kejar-kejaran dengan waktu seharian. Akhirnya, ya sudahlah kami mengambil tiket kelas bisnis (cuit-cuit, banyak duit niyye) Mutiara Selatan dari Stasion Tugu Yogyakarta ke Bandung. Tarifnya Rp.110.000. kebetulan waktu itu kan hari Minggu jadi pada batas atasnya. Untungnya masih kebagian tiket, karena tiket Lodaya Malam dengan harga Rp. 90.000 sudah Sold out. Akhirnya kami harus menambah ongkos tambahan yang seharusnya Cuma Rp.24.000 menjadi 110.000 (gila kan selisihnya…). Kereta kami tiba pukul 21.20 dan berangkat pukul 21.30 menuju Bandung.


Baca selengkapnya di sini

Indonesia Barat