Sugeng Rawuh | Wilujeng Sumping | Selamet Dheteng | Rahajeng Rauh | Salamaik Datang | Horas | Mejuah-Juah | Nakavamo | Slamate Iyoma| Slamate Illai | Pulih Rawuh | Maimo Lubat |
Showing posts with label Bandung. Show all posts
Showing posts with label Bandung. Show all posts

Villa Isola (dan misterinya ^^)

Dari Dago bingung neh mau kmana,, ada ide-ada ide? Aha..kami menemukan satu tempat yang layak diceritakan karena memang layak untuk diceritakan...:) selain itu, tempat ini sering kami pergunakan untuk menyusun rencana (yang tidak jahat) ataupun sekedar untuk duduk-duduk menyalurkan hobi bermain di kampus orang...^^. Hah? Kampus? Ya, kali ini kami akan menceritakan salah satu gedung yang kebetulan sekarang sudah menjadi bagian dari salah satu kampus negeri di Bandung, kampus itu bernama UPI, yang sering diplesetkan, katanya Universitas Padahal IKIP...yang akan kami ceritakan disini bukan UPInya, tapi salah satu bangunan di dalam UPI yang berjudul Villa Isola.
Baca selengkapnya di sini

Kawasan Dago

Simpang Dago
Untuk Dago, kembali akan diantar oleh Te, karena Elin dapet giliran rehat...^^ Salah satu tempat, atau boleh disebut kawasan yang cukup ternama dan menjadi ikon Kota Bandung adalah kawasan Dago, Jalan Dago atau disebut Dago saja. Jika startnya dari Museum Geologi menuju ke kawasan Dago tidak terlalu jauh kawan, tinggal menyebrang saja dari Museum Geologi, lalu ambil angkot jurusan Cicaheum – Ledeng (nyebrang dulu ya, kalau tidak nyebrang tidak akan pernah kalian melihat Dago ^^).
Baca selengkapnya di sini

Museum Geologi

Tidak jauh dari Museum Pos terdapat Museum Geologi. Sebelum membahas tentang koleksi, mari kita bahas terlebih dahulu tentang sejarahnya.
Keberadaan Museum Geologi berkaitan erat dengan sejarah penyelidikan geologi dan tambang di wilayah Nusantara yang dimulai sejak pertengahan abad ke-17 oleh ahli geologi dari Eropa. Awalnya disebut dengan Dienst van het Mijnwezen, dibentuk pada tahun 1850. Kelembagaan ini berganti nama jadi Dienst van den Mijnbouw pada tahun 1922, yang bertugas melakukan penyelidikan geologi dan sumberdaya mineral. Hasil penyelidikan yang berupa contoh-contoh batuan, mineral, fosil , laporan dan peta memerlukan tempat untuk penganalisaan dan penyimpanan, sehingga pada tahun 1928 Dienst van den Mijnbouw membangun gedung di Rembrandt Straat Bandung. 
Baca selengkapnya di sini

Museum Pos

Satu komplek dengan gedung sate adalah Museum Pos, yang berada di dalam bangunan gedung Pos Bandung.
Museum ini terletak di Jalan Cilaki No. 73, Kelurahan Cihapit, Kecamatan Bandung Wetan. Letaknya tak jauh dari Gedung Sate yang ternama itu. Bangunan Museum Pos menyatu dengan kantor pos Gasibu yang ada di jalan Cilaki.
Baca selengkapnya di sini

Gedung Sate

Start dari Dipati Ukur ya, biar gampang...anggap dari Museum tadi udah kembali ke Markas MPK di Dipati Ukur...:) (harus setuju). Untuk menuju Gedung Sate dari Dipati Ukur dapat ditempuh dengan berbagai kendaraan, pertama angkot 07, jurusan Cicaheum – Ciroyom ke arah Caheum, kedua angkot Riung – Dago ke arah Riung, ketiga jalan kaki via Gasibu.
Baca selengkapnya di sini

Museum Sri Baduga dan Monumen Bandung Lautan Api

Ada beberapa opsi untuk menuju ke museum ini kawan, jika dari Kebon Kalapa, kita ambil angkot warna kuning yang menuju Tegal Lega dan berhenti di Lapangan Tegal Lega untuk sedikit berjalan ke Museum. Tapi jika ambil dari markas MPK Dipati Ukur, pakailah Damri jurusan Dipati Ukur – Leuwi Panjang, dan turun di Lapangan Tegal Lega. Tarifnya? kalau pake angkot dari Kebon Kalapa, Rp. 2.000. Kalau pakai DAMRI? Sama...^^ (kalau sama kenapa dibedakan boooos >.<). Jadi, tarifnya, baik dari Kebon Kalapa maupun dari Dipati Ukur sama-sama Rp. 2.000. mengenai rute dan lain sebagainya akan diantar oleh Jeng E-Lin.

Baca selengkapnya di sini

Alun-Alun dan Masjid Agung Bandung

Masjid Agung Bandung
Seperti kami di bilang pada bagian sebelumnya kawan, kami bingung di persimpangan setelah menceritakan Gedung Merdeka, menceritakan Braga dulukah, atau Alun-Alun. Karena Braga sudah dibahas, mari kembali ke Gedung Merdeka untuk berjalan ke Alun-Alun Bandung.
Alun-alun dan Masjid Agung ini tidak jauh dari Gedung Merdeka, jika kita keluar dari Gedung Merdeka menengok ke kanan, sudah nampak menara Masjid Agung, twin towers, menara kembar yang bisa kita naiki (bukan dipanjat tentunya :p) untuk melihat Kota Bandung dan membenarkan teori, bahwa Bandung adalah sebuah cekungan atau sebuah danau raksasa, karena sejauh mata memandang 360 derajat akan kita lihat dinding-dinding batu seakan kita berada di dalam sebuah cekungan raksasa. Bagaimana cara naik ke menara itu? Nanti kita ceritakan bersama-sama ^^

Baca selengkapnya di sini

Jalan Braga

Jalan Braga
Tulisan mengenai Jalan Braga ini kami tulis ulang dari tulisan Ir. Bambang Soediono yang dimuat di www.bandungheritage.org.  Mohon ijin untuk ditulis ulang pak...^^ demi melestarikan cagar budaya Kota Bandung :) Berbicara mengenai Jalan Braga tidak ada matinya, dan tidak dapat dilepaskan dari perkembangan Kota Bandung itu sendiri terlebih berkaitan dengan masa penjajahan Kolonial Belanda. Jalan Braga sangat berkaitan dengan Politik Tanam Paksa (Cultuurstelsel) yang diberlakukan Belanda setelah perang Diponegoro (1825 – 1830)...apa hubungannya??
Baca selengkapnya di sini

Gedung Merdeka

Gedung Merdeka yang terletak di Jalan Asia Afrika Nomor 65 Bandung, dibangun pertama kali pada tahun 1895 sebagai tempat berkumpulnya orang-orang Eropa, terutama Belanda, yang tinggal di Bandung dan sekitarnya. Banyak di antara mereka adalah pengusaha kebun teh dan opsir Belanda. Mereka mendirikan sebuah perkumpulan yang dikenal dengan nama Societeit Concordia pada tanggal 29 Juni 1879. Tujuannya adalah “...... de bevordering van gezellig verkeer”. Sebagai tempat pertemuan, sebelumnya mereka biasa berkumpul, duduk-duduk sambil minum teh, di Warung De Vries.

Baca selengkapnya di sini

Bandung Kilometer Nol

“Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd”, itulah kurang lebih kalimat yang disampaikan Daendels kepada Bupati Bandung, R. A. Wiranatakoesoema II sambil menancapkan tongkatnya, yang artinya, “usahakan, bila saya datang kembali kesini, sebuah kota telah dibangun”. Banyak yang mengatakan, pembangunan kota Bandung dimulai dari peristiwa ini. Namun, tidak juga sebetulnya. R. A. Wiranatakoesoema II telah melihat perlunya sebuah ibukota kabupaten yang berada di dekat jalan raya untuk memudahkan perhubungan, perdagangan dan pengawasan wilayah. Krapyak yang sering dilanda banjir terletak di wilayah selatan sehingga sulit untuk mengawasi wilayah utara. 


Baca selengkapnya di sini

Asal Usul Bandung

Kata salah satu acara di tipi, kalau asal jangan usul, kalau usul ga boleh asal...hehe, pada bagian ini akan kami tulis mengenai asal-usul Bandung yang tentunya tidak asal. Pada abad ke-2 di pantai barat (Jawa Barat) terdapat kerajaan Salakanagara yang kemudian menjadi wilayah kerajaan Tarumanagara yang menguasai daerah sebelah utara Jawa Barat, sampai akhirnya Sri Maharaja Purnawarman berhasil menguasai seluruh wilayah Jawa Barat. Salah seorang menantu Suryawarman (Raja Tarumanagara ke tujuh), yakni Resiguru Manikmaya diberi hadiah daerah Kendan (sekarang daerah Nagreg, Cicalengka). 

Baca selengkapnya di sini

Bandung

Bukan Sebuah Catatan Perjalanan
Setelah beberapa kota dan kabupaten dijalani, kamipun berfikir apa yang akan kami tulis untuk kota ini. “Apa” yang kami maksudkan disini adalah wujud kebingungan kami dalam arti dari mana kami memulainya. Kami hidup dan menetap di Bandung belum lama memang, kurang lebih 2 tahun kami menetap di Bandung, dan dalam kurun waktu tersebut begitu banyak waktu yang terasa menguap begitu saja ketika ditanya apa yang kalian ketahui tentang Bandung. Sebagai wujud sumbangsih kami akan kota ini, maka akan coba kami tulis tentang Bandung, tapi tidak dalam wujud sebuah catatan perjalanan. Kami akan menceritakan Bandung dengan gaya kami yang semoga bisa dimengerti. Tapi, kami tidak akan meninggalkan pakem tulisan kami, untuk menyertakan sejarah dan bagaimana rute menuju tempat-tempat yang kami sebutkan tersebut dengan cara kami, cara pejalan kaki. 
Baca selengkapnya di sini

Indonesia Barat