Posted by
Pejalan Kaki
06 January 2010
Nama resmi museum ini adalah Museum Prabu Geusan Ulun, berada di dalam kompleks Gedung Negara atau Kantor Bupati Sumedang, menghadap ke arah alun-alun Sumedang. Sejarah museum ini bermula ketika pada tanggal 22 september 1912 Pangeran Aria Soeria Atmadja, Bupati Sumedang (1882 – 1919) pada waktu itu membuat surat wasiat wakaf. Beliau mewakafkan barang-barang kepunyaan beliau pribadi, dan barang peninggalan dari para leluhur Sumedang (sepintas udah kami singgung tadi pas jelasin kenapa ada Monumen Lingga di tengah alun-alun).
Baca selengkapnya
di sini
Posted by
Pejalan Kaki
22 December 2009
Catatan perjalanan 15 Mei 2009.
Perjalanan di mulai dari Sumedang, salah satu sisa kerajaan besar di Jawa bagian barat. Kenapa Sumedang? Ga ada alasan khusus si (jadi sepertinya ga perlu dibahas ya, haha) cuma, dulu pernah lewat Sumedang waktu mau ke Kuningan, kayaknya seru juga kalo dimulai dari Sumedang, sekalian mampir ke saudara muda, Padjadjaran kampus Jatinangor, ^^…
Baca selengkapnya
di sini
Posted by
Pejalan Kaki
21 December 2009
Dari Bandung ke Kabupaten Sumedang dapat ditempuh melalui dua jalur (setahu kami si, ga tau lagi kalau ada jalur yang lain), pertama melalui terminal Cicaheum dan yang kedua melalui Pangkalan DAMRI di depan kampus UNPAD Dipati Ukur. Dari Cicaheum bisa naik bus antar kota jurusan Bandung – Cirebon turun di Sumedang langsung, atau angkutan umum midley dari Cicaheum ke Cileunyi (Cicaheum – Cileunyi), terus ambil angkot lagi dari Cileunyi ke Sumedang (angkot 04). Jalur kedua, dari Dipati Ukur naik bus DAMRI ke Jatinangor trus midley juga Cileunyi – Sumedang (angkot 04).
Baca selengkapnya
di sini
Posted by
Pejalan Kaki
Informasi mengenai Loji ini dari seorang kawan bernama Disma Prasaja, pemuda asli Sumedang ini memperkenalkan Loji sebagai salah satu peninggalan Belanda yang sayang untuk ditinggalkan. Berbekal informasi itu, setelah keluar dari kampus UNPAD, gerbang yang ada bank BNInya, (pintu yang sebelah…..sebelah mana ya, pokoknya pintu gerbang pas kita turun dari DAMRI. Ada beberapa pintu sebenarnya, yang pas masuknya DAMRI sama pintu pas keluarnya DAMRI atau bus jurusan Bandung – Cirebon, nah yang kita ambil pintu yang masuknya DAMRI). Dari pintu itu kita belok kanan trus naik luruuuus aja ke arah kampus Universitas Winaya Mukti (UNWIM), nah betul, ke arah bumi perkemahan Kiara Payung juga (pada tahun 2006 dipakai sebagai Jambore Nasional Pramuka).
Baca selengkapnya
di sini
Posted by
Pejalan Kaki
 |
| Cadas Pangeran |
Bingung mau disisipkan di mana tulisan tentang Cadas Pangeran ini, akhirnya kami sisipkan antara Loji dan Monumen Lingga saja mengingat urutan arahnya memang seperti itu. Begini cerita kawan, di Cadas Pangeran inilah konon terjadi semacam kesepakatan antara Pangeran Kornel (Pangeran Koesoemah Dinata IX) dengan Daendels tentang pengerjaan jalan raya Pos, Anyer – Panarukan. Pengerjaan jalur ini dimulai pada tahun 1811 dan selesai tahun 1812. Karena Sumedang merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Belanda, maka Belanda memerintahkan untuk kerja paksa para penduduk pribumi dalam mengerjakan proyek jalan raya pos ini. Luar biasa, gunung dibelah menjadi jalan yang masih berfungsi sampai sekarang.
Posted by
Pejalan Kaki
Apakah Gunung Kunci itu? Konon nama aslinya adalah Panjunan karena terletak di wilayah Panjunan dan berubah menjadi Gunung Kunci karena gambar kunci di pintu masuk benteng ini. Benteng? Yak, gunung kunci awalnya merupakan kamuflase sebuah benteng bikinan Belanda, tahun 1918. Belanda secara jenius membuat benteng untuk mengontrol pemerintahan Sumedang.
Posted by
Pejalan Kaki
Sayangnya pohon hanjuang yang ada di situs ini bukanlah pohon yang sama ketika ditanam oleh Eyang Jayaperkosa. Pohon tersebut sudah tumbang karena usia pada tahun 1996, dan sekarang tumbuh persis di tempat aslinya anak dari pohon tersebut, tumbuh dan berkembang dari induknya langsung (ceuna, ceuna saha? Ceuna Pak Hari, Pak Hari eta saha? Pak Hari anu kuncenna situs ieu). Ada apa si dengan situs pohon hanjuang ini, bagi warga Sumedang dan sekitarnya pasti udah paham jalan ceritanya, tapi bagi kawan-kawan pelancong seperti kami mungkin alangkah baiknya kalo membaca sedikit uraian tulisan kami ini (promosi niyye..hehehe).
Posted by
Pejalan Kaki

Monumen Lingga Sumedang memiliki bentuk yang cukup unik dengaan ditopang empat anak tangga di empat penjurunya. Sepintas monumen ini berbentuk seperti kempul (salah satu bagian instrumen dalam gamelan, atau kalau kawan-kawan pernah beli es tong-tong, nah yang berbunyi tong-tong itulah yang kami menyebutnya kempul atau kenong juga boleh lah, nti kami cek dulu ya namanya yang bener…^^). Pada bagian dasarnya bebentuk kubus dengan empat sisinya memiliki prasati yang bertuliskan huruf Jawa (hanacaraka) yang berisi sebagai berikut.
Baca selengkapnya
di sini
Posted by
Pejalan Kaki
Akhirnya kami bertemu dengan penduduk lokal yang berjudul Disma Prasaja (punten kang…^^). Diantarlah kami masuk masuk ke dalam Museum. Nama resmi museum ini adalah Museum Prabu Geusan Ulun, berada di dalam kompleks Gedung Negara atau Kantor Bupati Sumedang, menghadap ke arah alun-alun Sumedang. Sejarah museum ini bermula ketika pada tanggal 22 september 1912 Pangeran Aria Soeria Atmadja, Bupati Sumedang (1882 – 1919) pada waktu itu membuat surat wasiat wakaf. Beliau mewakafkan barang-barang kepunyaan beliau pribadi, dan barang peninggalan dari para leluhur Sumedang (sepintas udah kami singgung tadi pas jelasin kenapa ada Monumen Lingga di tengah alun-alun).
Posted by
Pejalan Kaki
Makam Cut Nyak Dien baru ditemukan pada tahun 1959 berdasarkan permintaan Gubernur Aceh, Ali Hasan. Pencarian dilakukan berdasarkan data yang ditemukan di Belanda. Masyarakat Aceh di Sumedang sering menggelar acara sarasehan, dan pada acara tersebut, peserta berziarah ke makam Cut Nyak Dien. Kenapa baru ditemukan tahun 1959, dimungkinkan karena pada saat diasingkan ke Sumedang Belanda melarang menyebutkan identitas nama tahanan, sehingga penduduk setempat tidak mengenal siapa tahanan tersebut. Dalam usia tuanya dan kondisinya yang sakit serta buta, Cut Nyak Dien masih aktif menyebarkan Islam dan mengajar ngaji, oleh karena itu masyarakat setempat menyebuntnya Ibu Perbu atau Ibu Suci.
Baca selengkapnya
di sini
Posted by
Pejalan Kaki
Berangkat dari makam Cut Nyak Dien kami kembali berjalan kaki, belok kiri, belok kiri, belok kanan nyampe di simpang jalan kalo ke kiri ke arah Bandung kalau kekanan ke arah alun-alun Sumedang. Sebetulnya bisa jalan kaki sekalian liat-liat Sumedang sore hari, tapi ngejar waktu euy, akhirnya naik angkotlah kami (ssssst…jangan bilang-bilang komunitas pejalan kaki yang lain yak…^^). Angkot yang kami tumpangi masih jenis yang sama dengan yang membawa kami dari Bandung ke Sumedang. Aturan pertama sebelum naik angkot, tanya abang sopirnya, “ke Masjid Tegal Kalong kang?”, segitu bilang iyya langsung kita serbu angkotnya. Dengan ongkos Rp. 2.500,- udah nyampe pas depan Masjid Tegal Kalong dalam waktu 15 menit. Nyampe di masjid sekitar pukul 16.00, sholat dulu lah.
Baca selengkapnya
di sini
Posted by
Pejalan Kaki
Tepat di depan Masjid Tegal Kalong, kami dijemput (jiaaaa bahasanya) ditunggu tepatnya oleh abang angkot 04 yang sedang ngetem di depan masjid. Dan seperti biasa angkot akan berjalan kalau sudah penuh, dan jangan lupa untuk tanya “Bandung bang?”..tapi kadang tidak berguna juga basa-basi itu, buktinya, kami di tengah jalan dikudeta oleh abang angkot untuk ditransfer ke angkot yang lain. Memang kalau mau balik ke Bandung menggunakan 04 aga siangan jangan terlalu sore. Kami beranjak dari Masjid Tegal Kalong pukul 16.30, dikudeta pukul 17.00 dan angkot meluncur secara perlahan dan nyampe di simpang TOL Cileunyi pukul 18.30 an. Udah gelap, positif DAMRI Dipati Ukur – Jatinangor sudah tiada. Sebetulnya dari Sumedang tadi kita ambil 04 turun di perempatan sebelum alun-alun bisa, terus nunggu bus jurusan Bandung – Cirebon langsung turun Cicaheum. Tapi itu tidak terfikirkan oleh kami. Akhirnya kami menggunakan skenario kedua, Cileunyi – Cicaheum, Cicaheum – Dipati Ukur.
Baca selengkapnya
di sini