Posted by
Pejalan Kaki
10 January 2010
Catatan Perjalanan 14 November 2009
Hmmmm mulai dari mana ya..mmm..ehm..ehm, yak kita mulai. Saat itu tanggal 14 November 2009 tiga orang sakti (satu personil –deden- mendadak tidak bisa ikut, karena ada urusan mendadak, semuanya serba mendadak gitu deh) lengkap dengan kakinya yang kuat menjejakkan kaki di Cianjur. Sebuah kabupaten di Propinsi Jawa Barat. Ibukotanya adalah Cianjur. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Bogor dan Kabupaten Purwakarta di Utara, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut di timur, Samudra Indonesia di selatan, serta Kabupaten Sukabumi di barat. Cuaca yang menyambut kami cukup panas (fiuhhh,meleleh cuy) tapi mau panas kek, dingin kek, beku kek petualangan lanjut teruuuuuss. Atmosfernya menyenangkan, karena Cianjur kabupaten yang sangat ramah, penduduk kebanyakan berbicara menggunakan bahasa sunda yang sangat halus. (OMG, kita yang fasihnya bahasa sunda pasaran jadi keder cuy..tertohok rasanya..). Mulai dari tukang becak, supir angkot, mamang penjual gorengan, ibu penjual ind***e, semuaaanya te o pe be ge te.
Baca selengkapnya
di sini
Posted by
Pejalan Kaki
Awal perjalanannya tentu saja berangkat dari bandung (ha..ha flash back dulu yach). Rutenya dari Dipati Ukur naik DAMRI menuju ke Terminal Leuwipanjang Bandung. Pastikan rute DAMRI nya karena ada juga yang menuju ke Jatinangor. Jangan takut jangan khawatir pangkalan DAMRI nya ada persis di depan UNPAD (yang tersohor itu..wehehe). Duduk manis di dalam bus dan jangan lupa bayar Rp. 1800 (seribu delapan ratus rupiah).
Setelah tiba di Terminal Leuwipanjang Bandung silahkan menuju tempat hang outnya bus MGI (kepanjangannya apa ya??).
Baca selengkapnya di sini
Posted by
Pejalan Kaki
Istana Cipanas
Istana ini dibangun pada tahun 1740 oleh Van Heuts di atas tanah seluas 25 Ha. Istana Presiden Cipanas atau lebih dikenal sebagai Istana Cipanas terletak di kaki Gunung Gede, 103 km dari Jakarta ke arah Bandung, atau 17 km dari kota Cianjur. Walau tidak dipakai, Istana Cipanas tetap terpelihara dengan baik. Pemandangan di sekitar istana yang ditumbuhi sayur-sayuran, buah-buahan serta tanaman hias memberi nuansa asri. Istana megah yang dibangun pada 1740 ini dapat dikunjungi umum dengan izin khusus dari Sekretaris Negara. (ribet da ah).
Baca selengkapnya
di sini
Posted by
Pejalan Kaki
Dewan Perwakilan Daerah Kabupaten Cianjur
Dari terminal Rawabango menuju ke kantor DPRD naik angkot 05A, angkotnya warna merah dengan rute Rawabango-Ramayana-Harimart-Joglo PP. Sepanjang perjalanan dari terminal menuju ke kantor DPRD sobat sekalian akan melihat banyak kantor-kantor, seperti Kantor PLN, Pengadilan Negeri, Kejaksaan, Departemen-departemen lain. (jadi di Cianjur kantor-kantor pemerintahan dan BUMN semuanya sekomplek kayaknya). Duduk manis di angkot dan
jangan lupa bayar Rp.2.500,- (dua ribu lima ratus rupiah).
Baca selengkapnya
di sini
Posted by
Pejalan Kaki
Nah di depan alun-alun yang indah itu berdirilah dengan megah Masjid Agung Babussalam. Menurut harian Umum Pelita Edisi Kamis 7 Januari 2010 Mesjid ini terbaik di Jawa Barat baik dalam pengelolaannya maupun kemegahannya walaupun Masjid Agung Cianjur dibangun tahun 1810 (wuihhh mantabbb) .
Baca selengkapnya
di sini
Posted by
Pejalan Kaki
Setelah itu kami ke stasiun karena berniat pulang ke Bandung dengan kereta. Dari Mesjid Agung Babussalam menuju Stasiun Cianjur kami tempuh dengan berjalan kaki. (taat asas MPK). Selama jalan kaki kami menemukan banyak kuda dan tanpa diduga dan disangka kami melewati warung makan yang menyediakan menu Ind***e. (akhirnyaaaaaa..). Secepat kilat “bu Ind***e tiga, pake telor ga pake sayur” (inilah menu pusaka kami) dan jika keadaan keuangan memungkinkan kami memesan teh manis, karena para pejalan kaki perlu asupan gula yang cukup..he..he (jika keuangan tidak memungkinkan..u knowlah). Kami menikmati makan siang impian kami dengan santai tanpa gangguan karena jadwal kereta masih memungkinkan untuk santai-santai plus kongkow-kongkow. Makan siang diiringi dengan senyum gembira kemenangan karena mendapatkan menu pujaan hati ini.
Baca selengkapnya
di sini
Posted by
Pejalan Kaki
Kami memutuskan untuk pulang dengan bus. Akhirnya dari Stasiun Kereta kami ke terminal naik angkot. Angkotnya dari arah belokan ke stasion tadi yak, ambil jurusan 1A (untuk pastinya tanya tukang angkotnya deh, dijamin akan dijawab dengan ramah tamah khas Cianjur). Duduk manis (ya iyalah, kalo bikin ribut mah dipelototin supir!!!) dan jangan lupa bayar Rp. 2500,- (dua ribu lima ratus rupiah). Sesampai di Terminal Rawabango silahkan naik bus MGI yang kali ini menuju Bandung ya. Keajaiban tak henti-hentinya terjadi sobat, jika tadi ketinggalan kereta sebagai keajaiban pertama maka keajaiban kedua adalah kami naik bus yang sama yang kami naiki ketika dari Terminal Leuwipanjang Bandung menuju Cianjur. Plus dengan kondektur yang sama pula. Si bapak kondektur berkata ketika mengambil ongkos “Cuma sebentar ya neng main ke Cianjurnya”. Kali ini kami tidak malu, karena itu kami artikan sebagai keajaiban.(sapa lagi ayo yang pernah ngalamin selain MPK) dan si Bapak hanya dijawab dengan senyuman. Dari Terminal Rawabango Cianjur melesat menuju Bandung. (bye..bye Cianjur)
Baca selengkapnya
di sini