Sugeng Rawuh | Wilujeng Sumping | Selamet Dheteng | Rahajeng Rauh | Salamaik Datang | Horas | Mejuah-Juah | Nakavamo | Slamate Iyoma| Slamate Illai | Pulih Rawuh | Maimo Lubat |

Kampung Pulo

Kampung Pulo
Nah, di desa Cangkuang ada kampung adat namanya Kampung Pulo. Cukup senang ketika kami mengetahui bahwa pemerintah setempat memperhatikan keberadaan pulau ini. Kampung adat ini unik nian, hanya terdiri dari 7 bangunan, dan jumlah itu tak boleh kurang dan tak boleh lebih. 7 bangunan itu terdiri dari sebuah mesjid dan enam buah rumah tinggal. Kenapa ada 7 bangunan? Begini ceritanya. Semasa hidup, Embah Dalem Arief Muhammad memliki 7 orang anak. Seorang laki-laki dan enam orang perempuan.

Baca selengkapnya di sini

Museum Cangkuang

Terletak persis di depan makam Eyang Dalem Arief Muhammad ada bangunan kecil yang tidak begitu luas. Kami mencoba cari tahu bangunan apa sih itu sebenarnya. Eits..ada tulisan di sebelah kiri atas bangunan, ternyata eh ternyata itu adalah Museum. Di beranda nya duduk banyak mahasiswam-mahasiswa yang mendegarkan penjelasan. Kemudian para petugas menggunakan seragam. Alas kaki harus dilepas pula. Nah, MPK hanya mengutus satu orang anggota nya untuk masuk ke dalam untuk mengetahui apa sih yang ada di dalam bangunan itu.


Baca selengkapnya di sini

Kantor Bupati

Nah, setelah semua itu dijalani, kami bertolak meninggalkan komplek Cangkuang, kembali menyeberang dengan rakit. Lalu perjalanan kami lanjutkan ke kantor Bupati Garut, dari pintu keluar kompleks Candi kami naik delman, tarifnya tetap sama, Rp. 5.000, sesampai di persimpangan kami lanjutkan perjalanan dengan angkomenuju Garut, biasanya jurusan Kadungora-Garut, berwarna hijau dengan strip warna emas, tarifnya Rp. 4.000lumayan jauh kawan, kurang lebih 20menit dari Cangkuang.Menuju kantor Bupati kita akan melewati simpang lima (dihitung-hitung memang lima jumlah simpangnya..he..he). Tapi jangan berhenti di simpang lima ya. Dari simpang lima kita berjalan ke arah kanan, menyebrang dari tempat kita turun menuju Jalan Pembangunan, kurang lebih 200m dari Simpang Lima tadi.

Baca selengkapnya di sini

Alun-alun Kabupaten

Pendopo Kabupaten Garut
Dari kantor Bupati naik angkot warna biru, tarifnya Rp. 2.500,jaraknya tidak terlalu jauh jika ditempuh dengan angkutan umum, tapi tidak dekat juga kalau berjalan kaki. Turun persis di depan alun-alun. Ketika kami berkunjung ke Garut, alun-alun sedang ramai dipadati penduduk setempat. Ada yang berjualan, ada yang menawarkan jasa mainan anak-anak, ada yang sekedar nongkrong-nongkrong, ada yang makan, ada yang ngemil dan lain-lain. Nah, kembali ke kebingungan kami soal kantor bupati tadi, ternyata yang ada di alun-alun ini adalah pendopo kabupaten Garut. Kami pikir pendopo itu satu bangunan dengan kantor bupati, karena umumnya begitulah yang kami sering lihat, tapi di Garut ini, kantor bupati dan pendopo kabupaten, terpisah jarak ratusan meter.
Baca selengkapnya di sini

Stasiun Garut Tinggal Kenangan

Satu lagi tempat yang wajib dikunjungi oleh MPK yaitu stasiun kereta, apalagi stasiun tersebut punya cerita dan rekor tersendiri. Seperti cerita stasiun yang satu ini. Bergegas dari alun-alun para MPK member berjalan kaki menuju stasiun kereta. Kami bertanya pada ibu yang baik (yang kami tak tahu namanya) mengenai arah yang harus ditempuh, dengan sangat sabar dan berpengharapan teguh kami pun menyusuri jalan menuju stasiun. Terletak di persimpangan jalan Bank dan jalan Veteran. Sesampainya di lokasi twe...we...weng, stasiun tak lagi jadi stasiun, apa nih maksudnya??? Maksdunya, bangunan stasiun telah berubah fungsi, kini sudah menjadi markas sebuah ormas ternama dengan warna merah-orange-hitam (silahkan ditebak sendiri).
Baca Selengkapnya di sini

Indonesia Barat